Cerita Motivasi : Menggapai Mimpi Yang Tertunda
Menggapai Mimpi Yang Tertunda :
Mimpi ? entah kenapa bahkan untuk bermimpipun ia tak berani..
Mimpi ? entah kenapa bahkan untuk bermimpipun ia tak berani..
“Aku tidak pantas mempunyai mimpi, apa yang bisa aku
andalkan? Aku hanyalah seorang gadis desa yang terlahir dari keluarga petani
yang sederhana, tapi sungguh aku tak pernah menyesalinya”. Ucap Wulan, gadis
yang baru berusia 15 tahun.
Semenjak kejadian 3 tahun lalu, tepatnya saat Wulan
berusia 12 tahun, kejadian yang sangat menyesakkan yang sampai sekarang masih
terngiang-ngiang di kepala Wulan.
Kejadian itu, disaat
Wulan baru menyelesaikan bangku Sekolah Dasar, kedua orang tua Wulan sangat
menginginkan anaknya itu bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama (SMP),
begitupun dengan Wulan, ia sangat menginginkan bisa melanjutkan sekolah, sama
seperti teman-teman sebayanya yang lain. Tapi keadaan ekonomi keluarga Wulan
saat itu sangat memprihatinkan, membuat kedua orang tua Wulan harus bekerja
lebih keras lagi agar bisa menyekolahkan anak terakhirnya.
“Pak, gimana ini? Apakah kita akan tetap melanjutkan
Wulan sekolah?” Ibu Wulan bertanya pada suaminya.
“Iya Bu, kita harus berusaha untuk tetap
menyekolahkan Wulan” jawab ayah Wulan berusaha meyakinkan istrisnya.
“Tapi Pak, lihatlah keadaan keluarga kita, untuk
makanpun susah, apalagi untuk menyekolahkan Wulan, biarkan saja Wulan sama
seperti kakak-kakaknya membantu ibu di ladang”. Ibu Wulan menyarankan.
“Tidak bu, bapak tidak setuju, pokoknya bapak akan
berusaha bagaimanapun caranya agar Wulan bisa melanjutkan sekolah, karena bapak
tau Wulan itu punya mimpi yang besar” tegas ayah Wulan menjawab.
“Yasudahlah pak, terserah bapak saja” Ibu Wulan
mengalah.
#
Malam harinya ayah
Wulan tidak bisa tidur, ia terus memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa
menyekolahkan Wulan, setelah lama berfikir akhirnya menemukan jalan buntu,
jalan buntu yang terkadang bisa menjadi jalan pintas, satu-satunya cara agar ia
bisa menyekolahkan anaknya yaitu dengan meminjam uang ke Pak kades.
“Ya!! Besok aku akan coba menemui Pak kades”
pikirnya.
Setelah itu barulah ia bisa memejamkan mata untuk terlelap.
Pagi-pagi
sekali ayah Wulan bersiap-siap untuk pergi menemui Pak kades.
“Wulan, ayo cepat bangun, ikut bapak menemui Pak
kades”. Pinta ayah Wulan seraya membangunkan Wulan yang masih terlelap.
“Hemm.. kita mau ngapain menemui Pak kades, Pak?” Tanya
Wulan sambil mengucek-ucek matanya yang baru setengah sadar.
“Sudahlah, ikut saja, jangan banyak Tanya”. Jawab
ayah Wulan.
“I..i..iya pak” Wulan menurut.
Setelah siap, mereka berduapun langsung menemui Pak
kades di kantor kelurahan.
“Assalamu’alaikum”. Ayah Wulan mengucap salam ketika
sudah berada tepat di depan pintu ruangan Pak kades.
“Wa’alaikumsalam..siapa? silahkan masuk!!” Jawab Pak
kades.
Lalu Wulan dan ayahnyapun masuk ke ruangan Pak
kades.
“Ada apa kalian kemari?”. Tanya Pak kades sinis.
“Begini pak, tujuan saya dating kesini berniat
meminjam uang untuk biaya menyekolahkan Wulan anak saya”. Ayah Wulan berusaha
menjelaskan maksud kedatangannya kepada Pak kades.
“Apa?!!” Sontak Pak kades berdiri sambil melotot.
“I..i..tu juga kalau Pak kades boleh, dan bersedia
menolong saya”. Jawab ayah Wulan dengan sedikit terbata-bata.
“Memangnya kamu fikir saya ini Bank berjalan, hah?!
Dating-datang meminjam uang seenaknya !!, kalau miskin ya miskin saja, jangan
belagu sok-sokan mau menyekolahkan anaknya segala, jangan mimpi deh!! Karena
orang miskin seperti kalian tidak pantas punya mimpi !!”. Bentak Pak kades.
Wulan yang sedari tadi
melihat kejadian itu sedikit tercengang, ia sungguh tidak terima melihat
ayahnya dicaci maki tepat dihadapannya, Wulan hamper melihat ayahnya menitikkan
air mata, tapi sebelum itu terjadi akhirnya Wulan memutuskan untuk pergi dari
ruangan Pak kades itu.
“Ayo Pak, lebih baik kita pulang saja!!” Ajak Wulan
sambil menggandeng tangan ayahnya keluar dari ruangan Pak kades.
#
Aduhai..sungguh sangat
memilukan bukan?? Siapa sangka kejadian 3 tahun lalu itu telah mematahkan mimpi
seorang gadis kecil bernama Wulan, hingga kini usianya sudah menginjak 15, dia
tidak pernah berani lagi untuk bermimpi, walaupun takdir telah berbaik hati
padanya, setelah kejadian itu dia masih memiliki kesempatan untuk bisa
melanjutkan sekolah.
Karena tidak semua
orang di dunia ini jahat seperti Pak kades, karena masih ada segelintir orang
yang lebih memilih untuk peduli. Ya!! Segelintir orang yang lebih memilih untuk
peduli itu termasuk Pak H.Mansyur, seorang saudagar ke-2 di desanya yang kaya
raya setelah Pak kades, beliau memiliki sawah yang luasnya ber hektar-hektar.
Siapa sangka? Beliau terketuk hatinya saat ayah
Wulan dating kerumah beliau, ayah Wulan dengan tulus mengatakan keinginannya.
“Pak Haji, saya tau saya hanyalah orang miskin yang
tak punya apa-apa, tapi entahlah mengapa saya ingin sekali bisa menyekolahkan
Wulan anak saya, saya ingin dia bisa melanjutkan sekolah, saya akan melakukan
apapun agar bisa mewujudkan mimpi anak saya, saya tau dia mempunyai mimpi yang
besar, jadi saya dating kesini ingin meminta bantuan Pak haji, apakah Pak haji
bersedia menolong saya untuk mewujudkan mimpi anak saya?”. Ayah Wulan berusaha
menjelaskan maksud kedatangannya dengan panjang lebar, berharap masih ada orang
yang berbaik hati mau menolongnya.
Saat itu ayah Wulan dating menemui Pak haji
tanpa sepengetahuan Wulan ataupun keluarganya. Alhamdulillah, saat itu Pak haji
bersedia menolong ayah wulan hingga pada akhirnya wulan bisa melanjutkan
sekolah SMP. Selama 3 tahun, biaya sekolah Wulan ditanggung oleh Pak Haji, dan
selama 3 tahun pula ayah Wulan bekerja membanting tulang menggarap sebagian
sawah milik Pak haji dengan sukarela, tanpa upah sedikitpun yang ia minta,
karena untuk urusan makan masih bisa ia peroleh dari hasil ladang milik
keluarganya.
3
tahun sudah terlewatkan, kini Wulan tinggal menunggu kelulusan, tapi hey ?! apakah
Wulan masih mempunyai mimpi-mimpi itu? Mimpi yang menurut ayahnya sangat besar,
hingga patut untuk ia wujudkan. Kenyataan berkata lain, gadis kecil bernama
Wulan yang kini sudah semakin dewasa itu tidak memiliki mimpi sama sekali,
semenjak kejadian itu ia tidak pernah berani lagi untuk bermimpi, hingga
sekarang. Baginya hidup itu tidak perlu mimpi, yang ia perlukan hanyalah
menjalani hidup dengan selalu melakukan yang terbaik, lalu ia biarkan hidupnya
mengalir apaadanya begitu saja.
Aduhai,
sungguh sangat disayangkan sekali, pola fikir yang sudah tertanam dihati Wulan
itu sungguh keliru, bagaimana mungkin seseorang hidup didunia ini tanpa mimpi? Tanpa
cita-cita?. Sejatinya mimpi itu perlu, bahkan cita-cita itu sangan perlu,
karena dengan mimpi dan cita-cita seseorang bisa tau kemana tujuan hidupnya
akan dibawa, dengan mimpi dan cita-cita seseorang akan lebih bersemangat dan
lebih bersungguh-sungguh menjalani hidupnya sampai pada akhirnya nanti akan
sampai pada titik puncak dari mimpi-mimpi itu.
Tidak
ada yang berhak menghalangi mimpi seseorang, jangankan Pak kades, bahkan orang
nomor satu di negeri kita inipun, sungguh sama sekali tidak berhak untuk
menghalangi mimpi seseorang, apalagi sampai tega memetahkan mimpi-mimpi itu. Tapi
ironisnya ada saja yang egois hingga tega mematahkan mimpi seorang gadis kecil
bernama Wulan itu.
Lihatlah,
bahkan setelah Wulan mengetahui nilai hasil ujiannya yang cukup membanggakan
itu, ya walaupun ia tidak bisa menjadi lulusan terbaik disekolahnya, karena
sebagian temannya ada yang mendapatkan nilai hasil ujian yang lebih membanggakan.
Tapi hey ?! bukankah ia termasuk salah satu siswa yang berprestasi? Tapi apa
yang terjadi? Dia masih merasa tidak pantas untuk mempunyai mimpi, sungguh
memilukan bukan.
“Nak,
Bapak bangga sama Wulan, sekarang Wulan sudah lulus dengan mendapatkan nilai
yang bagus, ternyata perjuangan dan kerja keras Bapak selama ini tidak sia-sia”.
Ucap ayah Wulan dengan sorotan mata yang berbinar.
Wulanpun tersenyum dan hanya menganggukan kepalana
tanpa meresppon dengan kata-kata.
#
Tanpa
sepengetahuan Wulan, Ninta teman dekat Wulan sudah mendaftarkan Wulan ke SMA
yang cukup favorite di kotanya, karena Ninta tau Wulan pasti enggan untuk
mengurus sendiri pendaftaran itu, karena kadang ia masih merasa ragu. Ninta
adalah keponakan dari Pak H.Mansyur, orang yang selama ini sudah banyak
membantu keluarga Wulan, berbeda dengan dengan Wulan, Ninta hidup dengan
keluarga yang berkecukupan.
Ternyata
ayah Wulan tau kalau Ninta telah mendaftarkan Wulan ke Sekolah Menegah Atas
(SMA), dan ayah Wulanpun ikut mendukungnya, setelah proses seleksi yang cukup
lama itu selesai, akhirnya Wulan dan Ninta ketrima di SMA itu, mereka berdua
satu kelas. Wulan sedikit bingung dan ragu, apakah mungkin orang tuanya bisa
membiayainya sekloah di SMA favorite yang tentunya baiayanya cukup mahal.
“Pak,
apakah Wulan tidak merepotkan Bapak kalau Wulan melanjutkan sekolah ke SMA itu?”
Wulan memberanikan diri bertanya kepada ayahnya.
“Oh, tentu saja tidak nak, justru Bapak malah senang
melihat Wulan bisa melanjutkan sekolah SMA, kamu tenang saja nak, tidak perlu
khawatir memikirkan biaya sekolahmu nanti, karena sekarang Pak haji sudah
mempercayakan Bapak untuk menggarap sawah-sawahnya, yang nanti sebagian hasilnya
diserahkan untuk Bapak, dan Bapak ras itu cukup untuk membiayai sekolahmu
nantinak.”. Ayah Wulan menjawab dengan panjang lebar berusaha untuk menyakinkan
Wulan.
Wulan sekarang merasa lebih tenang setelah mendengar
kabar baik yang baru saja ayahnya katakan.
BERSAMBUNG…….
(tunggu cerita selanjutnya setelah Wulan masuk SMA, mimpinya mulai tumbuh, ia sudah berani lagi untuk bermimpi dan dia bisa menjadi pribadi yang sangat mengagumkan)
Cerita Motivasi : Menggapai Mimpi Yang Tertunda
Reviewed by Unknown
on
20.13
Rating:
Tidak ada komentar: